Bukan Superman Tetapi Tukang Tambal Ban

Brom…broom…kupacu motorku dengan kecepatan yang lumayan membuat jantung ketar ketir. Kulihat samping kanan kiri sekilas nampak motor motor yang lain kulalui dengan mudahnya. Mungkin perkiraan kecepatan motorku saat itu bisa menyaingi kecepatan motor valentino rosi saat melaju di sirkuit. Apalagi tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kecepatan yang hampir sama dengan motorku itu mendahului aku di tikungan jalan Mayjend Sungkono.

Sontak ku berpikir cepat. Inilah balapan sesungguhnya, ku percepat laju motorku. Berharap bisa mendahului orang tadi. Bisa-bisanya mendahului pembalap kawakan seperti saya tanpa permisi dulu. Terhina saya. (lah mang sapa saya…mang harus ya mendahului permisi dulu??).

Semakin cepat cepat dan cepat lajuku. Akhirnya si orang tadi sudah kelihatan disepan saya. Hingga hampir mendekati beberapa meter, laju motorku tiba2 drop dengan cepatnya. Wah mungkin nih orang bermain curang. Mungkin tadi sebelum balapan dia menyuruh orang untuk membuat motor saya tidak beres mesinnya.pikiran pikiran negatif tentang orang tadi terus berkutat di otakku. Hingga motorku benar-benar melaju hanya melaju dengan kecepatan 20 km/jam.

Kuturun sejenak dari motorku, dan kulihat apakah terjadi sesuatu yang diinginkan oleh lawan balapan saya tadi. Ternyata oh ternyata. Paku segede jari tangan bayi menancap dengan gagahnya didepan ban belakang motor ku. Dengan sangat terpaksa, saya harus menuntun motor itu untuk bertemu dengan guru pengobatan kaki motor saya alias si tukang tambal ban.

Di tengah terik matahari kota surabaya yang super duper hot. Mahasiswa keren asal ITS ini, dengan tas punggung dibelakangnya dan dengan tetap memakai helm dikepalanya (malu kalee..tadi ngebut sekarang malah nuntun. Hukum karma mungkin. Adzab ilahi. hidayah…halah nyambung2 ke sinetron melulu) menuntun motornya dan gak jelas mau cari tukang tambal ban dimana.

Disaat seperti itu, bukan superman bukan pula batman yang ku butuhkan untuk membantu. Tapi cukup dia seorang. Tukang tambal ban. Bagiku, menemukan tukang tambal ban pada kondisi saat itu mungkin akan menjadi karunia yang tak ternilai harganya. Dengan sabar ku tuntun, liat kanan, liat kiri, liat depan, liat belakang….loh kok liat belakang??he3x.ada akhwat cantik yang baru aja kulewati.karena capek jadi khliaf liat bentar gak papa kan.hi3x

Kesabaran ku ada batasnya.ingin ku tinggalkan aja tuh motor disana. Tapi ku yakin 100 persen. Pulang rumah ntar bakal di marahin habis-habisan. Belum bisa cari uang dah buang-buang motor. Disaat batas maksimum kesabaran itu, Tuhan selalu berbaik hati. di gang jalan, nampak tukang tambal ban. Oh God…..thanks very much…

Hidayat     : tambal ban pak…!!

Bapak TB      : bentar ya mas, antri dulu….

Hidayat     : iya pak,….sambil kipas kipas pakai buku ku lihat orang berlalu lalang dengan motornya. Awas ya nanti kalau ban ku dah gak bocor lagi. Ku salip semua lo…

Bapak TB   : mas, bocornya 3 lubang mas (membuyarkan pandanganku ke jalan). Gimana tetap tambal atau ganti ban ?.satu lubang 2.500 …

Hidayat     : wadoh…tadi tuh nambrak landak dimana ya…kok mpe bocor 3 gitu. Kok gak bocor 4 sekalian bira genap 10 ribu bayarnya.iya pak tambal aja….

Bapak TB   : oke…(tak bicara lagi setelah kata itu, langsung bekerja menambal ban motor mahasiswa keren asal ITS ini)


perrhatikan bapak itu dengan seksama ketika bekerja. Sebuah penghargaan sebesar-besarnya ku berikan pada profesi tambal ban dijalan. Karena sering sekali para pekerja tambal ban membantu saya dijalan. Kerja upah kecil tapi banyak manfaat bagi orang lain. Apalagi kalau yang nambal ban jujur, misal bocor 5 bilang 6 eh bilang 5. maka kudoakan semoga rizkinya makin berlimbah dan barokah. Amin.