Terpidana Mati, Kasihan Juga!!!

Akhir akhir ini artikel yang sering saya baca dan lihat baik di media cetak maupun elektronik adalah terkait terpidana mati yang akan segera di eksekusi oleh kejaksaan. Yang saya tahu dari mereka diantaranya adalah Sumiarsih dan Sugeng (Ibu dan Anak) yang melakukan pembunuhan satu keluarga dari Letkol (Mar) Poerwanto dan 4 anggota keluarganya tahun 1988. setelah mendekam di penjara selama 20 tahun akhirnya datang juga (seperti judul acara Tv saja) untuk pelaksanaan eksekusi mati pada mereka.

Mereka semua sudah mengajukan grasi ke Presiden Republik Indonesia akan tetapi permintaan tersebut di tolak oleh presiden Republik Indonesia. Apakah presiden juga dosa ya telah terlibat secara tidak langsung terhadap eksekusi mati ini. Trus hukum bagi yang menembak mati nanti seperti apa ya di akhirat kelak??

Kalau melihat apa yang telah mereka lakukan yaitu menghilangkan nyawa satu keluarga sudah sepantasnya mereka mendapatkan huhkuman yang sama yaitu hilangnya nyawa mereka. Akan tetapi selama dalam proses hukuman apakah kita juga tidak memandang manusia yang bertaubat. Apakah kita juga tidak mempertimbangkan Taubat dari pada mereka yang telah melakukan kesalahan itu.

Detik-detik menjelang eksekusi mati. Apakah ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sama (di eksekusi mati) bagaimanakah perasaan kita. Kita menandatangani sendiri berita acara kematian kita. Dimana kita akan ditempak dan waktunya juga. Apakah kita sanggup menghadapi itu. Saya rasa sangat tidak sanggup.

Sebenarnya kasihan kalau melihat terpidana mati yang akan di eksekusi, baik mental dan fisik pastilah akan sangat terbebani. apalagi ketika memang kita belum mempunyai bekal yang cukup dalam menghadapi ilahi (pencipta kita).

Mari kita berlomba-lomba mencari pahala sebelum kita menghadap ilahi.

8 Responses

  1. yg bermasalah sebenarnya adalah pihak pengadilannya yang menunda hampir 20 tahun, sama aja hukuman yang diterima double 20 tahun penjara dan hukuman mati…😛
    Harus ada efek jera kepada pelaku boz😀
    btw gimana tes wartawannya??

    @Arul : Testnya lumayan bingung.butuh banyak pengetahuan rul…nunggu panggilan interview

  2. yah,, emang harus ada resiko yang diambil sih…
    seolah emg tampak ga manusiawi… tapi klo itu emang efektif…? why not…

  3. hemmhhh….
    hutang nyawa, bayar dengan nyawa.
    (waduh, kejem…)

  4. pikir seribu kali sebelum berbuat jahad, kalo dah kejadian yak resiko ditanggung sendiri.

  5. mati itu pasti , setiap perbuatan itu ada pertanggungjawabannya….

  6. Mungkin bagus juga tuh klo koruptor di pidana mati aja biar kapokkkkkkkkkkkkkkk

    Salam kenal
    Blogger Makassar

  7. bicara hukuman mati..pasti selalu ada pro dan kontra.
    enaknya di tindak seperti apa kalau berhadapan dengan kasus mereka?

  8. Kematian adalah sebuah gerbang diujung jalan kehidupan kita.
    Cepat atau lambat kita akan mengalaminya juga. Ini hanyalah masalah waktu. . . . . .
    Bila alur kehidupan seseorang dihentikan secara paksa karena adanya “dosa besar” yang dilakukannya, mungkin kita tak usah berlinang air mata dan berfikir ini adalah tragedi kemanusiaan.
    Suatu kematian kadang adalah demi tegaknya sebuah kehidupan ditempat lain.
    Bukanlah suatu tragedi bila seekor singa menerkam rusa, karena ada keseimbangan ekosistim yang harus dipelihara.
    Juga bukanlah tragedi kemanusiaan bila sepasang ibu dan anak harus diakhiri hidupnya diujung senapan karena ada Purwanto-Purwanto lain yang harus dilindungi dan butuh kehidupan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: